Halo, sahabat yang mungkin sedang merindukan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Pernahkah Anda menatap sebuah bangunan tua dan bertanya-tanya, cerita apa yang tersimpan di balik dindingnya? Atau menemukan sepucuk surat usang di loteng, lalu membacanya berulang kali meskipun surat itu bukan untuk Anda? Atau merasa bahwa masa lalu—meski bukan milik kita—tetap memiliki cara untuk menyentuh hati?
Selamat datang di From Up on Poppy Hill (Kokuriko-zaka Kara), film anime tahun 2011 dari Studio Ghibli yang disutradarai oleh Goro Miyazaki (putra Hayao Miyazaki), dengan skenario yang ditulis oleh ayahnya sendiri. Film ini dirilis sebagai bagian dari proyek “Lupakan 20 Menit Pertama yang Membuat Anda Menangis”—karena di sini tidak ada robot sedih atau rumah terbang. Yang ada adalah seorang gadis SMA yang setiap pagi mengibarkan bendera sinyal untuk kapal-kapal ayahnya yang hilang, dan seorang pemuda yang menulis artikel di koran sekolah tentang cinta pada masa lalu.
Ini bukan film tentang petualangan besar. Ini adalah film tentang hal-hal kecil—yang justru paling besar.
Cerita Sebuah Klub Tua, Sebuah Rahasia, dan Satu Musim Semi
Tahun 1963. Yokohama, Jepang. Olimpiade Tokyo akan digelar tahun depan, dan seluruh negeri sedang berbenah menyambut era baru. Gedung-gedung lama dirobohkan untuk memberi tempat pada bangunan modern. Kota berubah cepat—dan tidak semua orang setuju.
Di atas bukit yang menghadap ke pelabuhan, berdirilah Matsuzaki House, sebuah asrama tua yang ditempati oleh para siswa sekolah menengah. Dan di sanalah kita bertemu Umi Matsuzaki (suara oleh Masami Nagasawa/Aubrey Plaza di versi Inggris)—seorang gadis berusia 16 tahun yang ceria, pekerja keras, dan sangat bertanggung jawab.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Umi mengibarkan bendera sinyal dari rumahnya yang berada di atas bukit. Bendera itu bertuliskan “Semoga Selamat Berlayar”. Ia mengirimkannya kepada ayahnya—seorang kapten kapal yang tewas dalam perang Korea tujuh tahun lalu. Umi tidak tahu persis di mana ayahnya berada. Tapi ia percaya, di suatu tempat di lautan luas, mungkin kapal-kapal yang lewat melihat benderanya.
Di sekolah yang sama, ada Shun Kazama (suara oleh Junichi Okada/Anton Yelchin—salah satu peran terakhir aktor muda yang meninggal terlalu cepat). Shun adalah pemimpin redaksi koran sekolah dan anggota klub penggagas revitalisasi klub Latin Quarter—gedung tua bobrok yang menjadi markas berbagai klub ekstrakurikuler.
Latin Quarter adalah simbol dari masa lalu yang mulai dilupakan. Atapnya bocor, jendelanya pecah, dan dindingnya dipenuhi lumut. Para pengurus sekolah ingin merobohkannya demi membangun gedung parkir. Tapi Shun dan teman-temannya bersikeras: “Bangunan ini bukan sekadar kayu dan paku. Ini adalah kenangan.”
Umi dan Shun bertemu karena Umi kebetulan membaca artikel Shun di koran sekolah. Ia tertarik, lalu ikut membantu membersihkan Latin Quarter. Dan seiring mereka menyikat lantai, mengecat ulang dinding, dan memperbaiki atap yang bocor, sesuatu yang lain mulai tumbuh: rasa suka yang sederhana, jujur, dan begitu murni sehingga terasa seperti musim semi itu sendiri.
Umi, Gadis Pengibar Bendera yang Menahan Tangis
Umi adalah tipe protagonis yang tidak berteriak, tidak menangis di depan orang, dan tidak pernah mengeluh. Sejak ayahnya tiada, ibunya pergi ke Amerika untuk belajar (dan jarang pulang), Umi harus mengurus rumah dan adik-adiknya sendiri. Ia memasak, membersihkan, mengerjakan PR, lalu membantu klub Latin Quarter. Tanpa banyak bicara.
Tapi di dalam hatinya, Umi menyimpan luka. Ia masih merindukan ayahnya. Ia menyimpan foto kapal yang ditenggelamkan perang. Ia bahkan menyimpan sebuah rahasia: setiap bulan, neneknya mengiriminya uang dan sepucuk surat yang selalu diakhiri dengan kalimat yang sama: “Jangan tanyakan tentang ayahmu.”
Umi tidak pernah membenci ibunya yang pergi. Tapi ia tidak bisa mengerti mengapa keluarganya seolah enggan membahas masa lalu. Sampai suatu hari, Shun menunjukkan sebuah foto tua di ruang bawah tanah Latin Quarter. Foto itu adalah potret para veteran perang yang dulu menjadi anggota klub. Dan di sudut foto, ada seorang pria muda yang sangat mirip dengan Shun.
Umi terhenyak. “Siapa dia?” tanyanya.
Shun menjawab, “Itu kakekku. Tapi ayahku bilang aku anak angkat. Aku tidak tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya.”
Dari situlah misteri mulai menggelayut. Apakah Shun dan Umi memiliki hubungan darah? Apakah cinta yang baru tumbuh harus kandas sebelum sempat mekar?
Latin Quarter Simbol Perlawanan terhadap Lupa
Saudara, salah satu hal paling indah dari From Up on Poppy Hill adalah bagaimana film ini merayakan hal-hal tua. Latin Quarter adalah bangunan jompo yang penuh debu, tapi di dalamnya tersimpan segalanya: buku-buku langka, papan catur usang, mikroskop jadul, hingga sebuah mesin tik yang mungkin pernah digunakan untuk menulis surat cinta 30 tahun lalu.
Para siswa rela begadang, membersihkan, mengecat, dan memperbaiki. Mereka bahkan membuat proposal resmi untuk menyelamatkan gedung itu, lengkap dengan perhitungan biaya dan manfaat. Mereka tidak hanya menyelamatkan kayu dan besi. Mereka menyelamatkan cerita-cerita kecil yang tidak akan dicatat dalam buku sejarah—tapi tanpanya, sejarah terasa hambar.
Ada satu adegan yang membuat saya tersenyu: ketika seluruh siswa berkumpul di halaman sekolah, menyanyikan lagu lama sambil melakukan pembersihan besar-besaran. Tidak ada yang dibayar. Tidak ada yang dipaksa. Mereka melakukannya karena mereka sadar: “Kami tidak hidup di masa lalu. Tapi kami tidak akan menjadi diri kami sekarang tanpa masa lalu itu.”
Mari kita camkan itu.
Ketika Cinta Bertabrakan dengan Rahasia Keluarga
Di pertengahan film, kita menemukan kebenaran: Shun dan Umi ternyata adalah kakak-beradik. Yah, mungkin. Tidak ada yang pasti. Tapi seorang wanita tua yang dulu bekerja di Latin Quarter mengisahkan bahwa ayah Umi (Kapten yang tewas) dan ayah Shun (yang juga tewas dalam perang) adalah teman dekat. Mereka pernah berjanji untuk saling menjaga anak masing-masing jika salah satu gugur.
Namun cerita lebih rumit dari itu. Ada kemungkinan—kecil tapi mengganggu—bahwa Shun adalah anak kandung dari ayah Umi. Jika benar, maka mereka bersaudara. Dan cinta yang mereka rasakan akan menjadi sesuatu yang… tidak bisa dilanjutkan.
Umi dan Shun sama-sama terdiam saat mengetahui ini. Mereka tidak marah. Mereka hanya sedih. Lalu Shun, dengan keberanian yang jarang dimiliki pemuda seusianya, berkata: “Aku tetap akan menyukaimu. Tapi aku tidak akan memaksakan apa pun sampai kita tahu kebenarannya.”
Umi mengangguk. Dan mereka melanjutkan membersihkan Latin Quarter, seolah tidak terjadi apa-apa—padahal hati mereka sedang berdarah.
Penyelidikan ke Masa Lalu
Dengan bantuan nenek Umi (yang ternyata menyembunyikan banyak rahasia) dan catatan-catatan lama dari pelabuhan, akhirnya terungkaplah kebenaran: Shun bukanlah anak kandung ayah Umi. Ia hanya diadopsi oleh teman ayah Umi setelah orang tua kandungnya tewas dalam kecelakaan. Tidak ada hubungan darah.
Umi dan Shun bisa bernapas lega. Tapi yang lebih penting dari pengungkapan itu adalah: mereka akhirnya mengerti mengapa orang tua mereka dulu begitu tertutup. Bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena masa perang meninggalkan luka yang terlalu dalam untuk diceritakan. Dan kadang, diam adalah cara mereka melindungi anak-anaknya dari rasa sakit yang tidak perlu.
Adegan paling mengharukan terjadi saat Umi dan adik-adiknya menaiki perahu kecil ke tengah laut, melepaskan karangan bunga ke ombak, dan Umi berteriak sekencang-kencangnya: “Ayah! Kami baik-baik saja! Aku sudah besar! Aku bisa menjaga adik-adik! Jadi, jangan khawatir!”
Air matanya jatuh ke laut. Dan laut menerimanya dengan lembut.
Mengapa Film Ini Layak Anda Tonton (Apalagi di Pagi Hari)
1. Nostalgia yang Tidak Berat Sebelah
Banyak film tentang masa lalu terasa seperti ceramah: “Zaman dulu lebih baik.” From Up on Poppy Hill tidak seperti itu. Ia mengakui bahwa modernisasi itu perlu. Tapi ia juga mengingatkan bahwa merobohkan yang lama tidak harus berarti melupakan. Kadang, yang lama bisa diperbaiki, bukan dihancurkan.
2. Karakter yang Dewasa Sebelum Usianya
Umi dan Shun berusia 16 tahun, tapi mereka bertindak lebih dewasa dari banyak karakter dewasa di film lain. Mereka tidak histeris, tidak dramatis, dan tidak egois. Ketika dihadapkan pada kemungkinan bahwa mereka bersaudara, reaksi pertama mereka bukanlah “Aku tidak peduli!” melainkan “Kita harus mencari tahu kebenarannya.” Ini adalah kematangan emosional yang langka—dan sangat indah untuk disaksikan.
3. Animasi yang Menangkap Suasana
Studio Ghibli, bahkan di bawah sutradara Goro yang masih muda, tetap mampu menghasilkan karya visual yang memukau. Perhatikan detail cahaya matahari pagi yang menyusup lewat jendela kayu Latin Quarter. Perhatikan debu yang menari di udara. Perhatikan bagaimana warna laut berubah dari biru ke oranye saat senja. Ini adalah film yang ingin Anda hentikan di setiap bingkai.
4. Soundtrack yang Menenangkan Hati
Musik dari Satoshi Takebe (dengan satu lagu tema legendaris dari Aoi Teshima yang juga menyanyikan “The Rose” untuk Only Yesterday) mengalun lembut sepanjang film. Tidak ada musik yang mendramatisir secara berlebihan. Iramanya seperti ayunan kursi goyang di teras rumah nenek—tenang, familiar, dan membuat Anda merasa aman.
5. Pesan tentang Masa Lalu yang Tidak Boleh Dilupakan
Di akhir film, Latin Quarter tidak dirobohkan. Justru, berkat proposal para siswa, gedung itu direnovasi dengan penuh hormat. Para lulusan tua yang dulu menjadi anggota klub datang kembali, menangis haru melihat bekas tempat mereka belajar. Seorang kakek berkata, “Aku pikir ini sudah hilang. Ternyata, kalian merawatnya.”
Dan di situlah pesan inti film ini: Masa lalu tidak boleh menjadi penjara. Tapi juga tidak boleh menjadi sampah. Masa lalu adalah tanah tempat kita berdiri. Tanpanya, kita tidak akan pernah cukup kuat untuk melangkah maju.
Refleksi untuk Kita yang Hidup di Zaman Serba Cepat
Saudara, From Up on Poppy Hill adalah film tentang perlawanan terhadap lupa. Kita hidup di era di mana bangunan tua dirobohkan dalam semalam, di mana berita hari ini sudah usang besok, di mana kenangan disimpan di cloud yang mungkin suatu hari lenyap. Kita begitu sibuk mengejar yang baru hingga lupa bahwa yang lama punya cerita yang tak tergantikan.
Mungkin Anda tidak punya gedung tua yang harus diselamatkan. Tapi Anda punya foto-foto lama di album nenek. Anda punya surat cinta yang menguning di lemari. Anda punya cerita tentang kakek yang tidak sempat Anda tanyai selagi ia masih hidup. Itu semua adalah Latin Quarter versi Anda sendiri.
Jadi, setelah menonton film ini, mungkin Anda bisa menelepon orang tua atau kakek nenek. Tanyakan cerita masa kecil mereka sebelum semuanya terlambat. Karena seperti kata Shun: “Kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan. Tapi kita bisa memilih bagaimana kita mengingat.”
Sebuah Film yang Akan Membuat Anda Tersenyu dan Bergumam “Ah… indah sekali.”
From Up on Poppy Hill bukan film yang membuat Anda terisak-isak. Ia membuat Anda tersenyu—senyum yang tumbuh perlahan, seperti matahari pagi yang mulai menyinari bukit. Ia membuat Anda ingin mematikan ponsel, membuat secangkir teh, dan duduk di dekat jendela sambil memandang jauh ke luar—meskipun yang terlihat hanya gedung-gedung beton.
Karena kadang, yang kita butuhkan bukanlah kesedihan yang meledak-ledak, melainkan ketenangan yang mengingatkan bahwa hidup ini baik-baik saja. Bahwa masa lalu, dengan segala lukanya, telah membawa kita ke tempat kita berdiri sekarang. Dan itu sudah cukup untuk disyukuri.
Selamat menonton, dan jangan lupa mengibarkan bendera kecil untuk orang-orang yang pernah kita cintai—meskipun mereka sudah tiada.