Halo, sahabat yang mungkin bingung setelah menonton film ini—dan itu tidak masalah.
Pernahkah Anda bermimpi begitu aneh sehingga setelah bangun, Anda tidak bisa menjelaskannya kepada siapa pun? Ada rasa, ada warna, ada emosi yang membekas, tapi kata-kata terasa hambar ketika mencoba merangkainya? Lalu Anda hanya diam, menghela napas, dan berkata, “Pokoknya… aneh. Tapi indah.”
Selamat datang di The Boy and the Heron (君たちはどう生きるか / Kimitachi wa Dō Ikiru ka—”How Do You Live?”), film tahun 2023 dari Studio Ghibli yang disutradarai Hayao Miyazaki. Film ini dirilis tanpa trailer, tanpa cuplikan, tanpa sinopsis—hanya satu poster bergambar burung bangau aneh dan seorang anak laki-laki. Dunia heboh. Dan ketika film tayang, banyak yang keluar bioskop dengan kepala menunduk, bertanya-tanya, “Apa yang baru saja saya tonton?”
Ini bukan film untuk dipahami dengan logika. Ini adalah film untuk dirasakan dengan hati. Dan hati—jika Anda membiarkannya—akan menangis. Mari kita masuk ke dalam dunia yang paling personal dari Miyazaki. Tapi saya peringatkan: di sini, tidak ada jawaban mudah.
Cerita Seorang Anak Laki-Laki, Sebuah Bangau, dan Sebuah Menara
Tahun 1943, Perang Pasifik masih berkecamuk. Mahito Maki (suara oleh Soma Santoki/Luca Padovan) adalah seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun yang tinggal di Tokyo. Suatu malam, rumah sakit tempat ibunya bekerja terbakar. Ibu Mahito—seorang wanita cantik dan hangat—tewas dalam kobaran api. Mahito menyaksikan dari kejauhan, tidak bisa berbuat apa-apa.
Kita tidak diberi adegan tangisan histeris. Miyazaki hanya menunjukkan Mahito yang berlari, lalu berhenti, lalu diam. Wajahnya kosong. Matanya kering. Itulah gambaran trauma yang begitu dalam hingga air mata tak sanggup keluar.
Setahun kemudian, ayah Mahito (Shoichi, seorang pengusaha pabrik amunisi) menikahi adik ipar mendiang istrinya—Natsuko. Mahito pindah ke rumah besar milik keluarga Natsuko di pedesaan, dikelilingi hutan lebat. Di sana, ada sebuah menara misterius yang dibangun oleh kakek buyut Natsuko—seorang pria gila yang percaya pada dunia lain. Tidak ada yang pernah masuk ke menara itu. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalamnya.
Kemudian muncul seekor bangau abu-abu (suara oleh Masaki Suda/Robert Pattinson—ya, Robert Pattinson dengan suara yang hampir tidak bisa dikenali). Bangau itu bisa bicara. Ia berkata pada Mahito, “Ibumu tidak mati. Ia menunggumu di menara.”
Mahito awalnya tidak percaya. Tapi suatu hari, Natsuko—ibu tirinya—masuk ke hutan dan tidak kembali. Mahito pun mengikuti bangau itu ke dalam menara. Dan di situlah dunia terbalik.
Dunia di Bawah Menara Antara Nyata dan Imajinasi
Saudara, saya akan jujur: menjelaskan dunia dalam The Boy and the Heron secara linier hampir mustahil. Ini bukan Naruto yang punya aturan chakra. Ini bukan Spirited Away yang masih bisa diikuti alurnya. Ini adalah mimpi—dan mimpi tidak mengikuti logika.
Di bawah menara, Mahito bertemu dengan:
- Para burung pemakan manusia (terlihat seperti bangau raksasa dengan paruh menyeramkan).
- Seorang gadis muda yang bisa menyalakan api dengan jari-jarinya (namanya Himi, dan kita akan tahu siapa dia nanti—spoiler: ia adalah versi muda dari ibu Mahito).
- Batu-batu pembawa takdir (batu putih yang konon menjadi fondasi dunia, dan jika diletakkan di tempat yang salah, seluruh alam semesta akan runtuh).
- Seorang kakek tua penguasa menara (yang ternyata adalah kakek buyut Natsuko, yang telah hidup selama ratusan tahun menjaga keseimbangan dunia).
Mahito tidak ingin menjadi pahlawan. Ia hanya ingin menyelamatkan Natsuko—bukan karena ia sudah menganggapnya sebagai ibu, tapi karena ia tidak mau kehilangan orang lain lagi. Tapi dunia di bawah menara memaksanya untuk membuat pilihan: apakah ia akan menggantikan kakek tua itu sebagai penjaga dunia? Atau ia akan kembali ke dunia nyata yang kejam, penuh perang, dan penuh kehilangan?
Kekerasan Halus dan Kehilangan yang Tak Terucap
Salah satu hal yang membuat The Boy and the Heron berbeda dari film-film Miyazaki sebelumnya adalah penggambaran kekerasan yang lebih eksplisit, tapi tetap dalam gaya Miyazaki: tidak berlebihan, tapi menusuk.
- Mahito memukul kepalanya sendiri dengan batu hingga berdarah agar ia tidak perlu masuk sekolah. Adegan ini singkat, tapi menyakitkan. Mahito melukai dirinya sendiri karena ia tidak tahu cara mengungkapkan kesedihannya.
- Para burung pemakan manusia menyerang Mahito, mematuk matanya, dan mencoba mencabik-cabiknya. Ini adalah alegori dari trauma yang terus menggerogoti.
- Di akhir film, kakek tua itu menunjukkan 13 batu fondasi dunia—dan satu di antaranya jahat. Batu jahat itu harus disingkirkan agar dunia tidak hancur. Tapi batu jahat itu… mirip dengan batu yang Mahito bawa dari dunia nyata.
Miyazaki sepertinya berkata: Kita semua membawa batu jahat di dalam saku. Pertanyaannya bukan bagaimana membuangnya. Pertanyaannya adalah apa yang kita lakukan meskipun batu itu ada.
Himi, Api, dan Pengorbanan Seorang Ibu
Karakter Himi adalah jantung dari film ini. Ketika Mahito pertama kali bertemu dengannya, Himi adalah seorang gadis pemberani, sedikit ceroboh, dengan kemampuan menyalakan api dari jari-jarinya. Ia tinggal di dunia bawah sendirian, merawat burung-burung peliharaan, dan bermain dengan para roh hutan.
Mahito tidak tahu bahwa Himi adalah ibunya yang masih muda. Tapi penonton perlahan menyadari: cara Himi membelai rambut Mahito, cara ia tersenyum, cara ia mengatakan “Kamu anak yang baik”—semuanya begitu familiar.
Di klimaks film, Himi harus memutuskan. Kakek tua penguasa menara menawari Mahito posisi sebagai penjaga dunia. Jika Mahito menerima, ia bisa tinggal di dunia bawah selamanya, bersama Himi—ibunya—yang tidak akan pernah mati. Tapi Himi menolak. Ia berkata pada Mahito, “Aku harus kembali. Aku harus menjadi ibumu di dunia nyata. Meskipun itu berarti aku akan mati dalam kebakaran.”
Mahito berteriak, “Tidak! Aku tidak ingin kau mati lagi!”
Tapi Himi tersenyum. “Kau akan baik-baik saja. Kau akan tumbuh dewasa. Kau akan menemukan orang-orang yang mencintaimu. Dan kau akan melupakanku—sedikit demi sedikit. Dan itu tidak apa-apa.”
Mereka berpelukan. Api menyala di sekitar mereka. Dan Himi pun pergi.
Simbol-Simbol yang Membingungkan (dan Itu Disengaja)
Banyak penonton yang frustrasi dengan The Boy and the Heron karena terlalu banyak hal yang tidak dijelaskan. Siapa sebenarnya bangau itu? Apa itu batu fondasi? Mengapa ada burung pemakan manusia? Apa hubungan menara dengan perang?
Miyazaki sengaja tidak menjawab. Karena menurutnya, film bukanlah teka-teki yang harus dipecahkan. Film adalah pengalaman yang harus dijalani.
Beberapa interpretasi dari para kritikus dan penggemar:
- Menara adalah metafora dari Studio Ghibli itu sendiri. Kakek tua penguasa menara adalah Miyazaki. Batu fondasi adalah film-film yang ia buat. Dan pertanyaan Mahito—”Apakah aku harus menggantikannya?”—adalah pertanyaan yang selama ini ditanyakan pada putranya, Goro Miyazaki, dan para penerus Ghibli.
- Burung bangau adalah kegelisahan kreatif. Bangau itu mengganggu, menjengkelkan, berbohong, tapi pada akhirnya ia membantu. Mungkin bangau adalah simbol dari seni itu sendiri: tidak pernah bisa dipercaya sepenuhnya, tapi tanpanya, kita tidak akan pernah menemukan dunia baru.
- Himi adalah gambaran ideal dari ibu yang tidak pernah sempat Miyazaki kenal. Miyazaki kehilangan ibunya saat ia masih muda—sama seperti Mahito. Dan sepanjang kariernya, ia terus menciptakan karakter ibu yang kuat dan penyayang (seperti Nausicaä, San di Princess Mononoke, Satsuki di My Neighbor Totoro) seolah berusaha menghidupkan kembali sosok yang telah tiada.
Mengapa Film Ini Begitu Istimewa—Meskipun Membingungkan
1. Inilah Miyazaki yang Paling Personal
Tidak seperti film-film sebelumnya yang bisa dinikmati sebagai petualangan lepas, The Boy and the Heron adalah surat cinta dan permintaan maaf sekaligus. Miyazaki berkata pada kita: “Ini adalah hidupku. Ini adalah lukaku. Ini adalah harapanku. Aku tidak tahu apakah aku berhasil menyampaikannya. Tapi ini yang bisa aku berikan.”
2. Animasi Tangan yang Hampir Punah
Film ini dibuat selama 7 tahun. Tim animator Ghibli menggambar hampir setiap bingkai dengan tangan—termasuk adegan api yang berkobar, debu yang beterbangan, dan bulu-buru burung yang bergerak satu per satu. Di era AI dan CGI, The Boy and the Heron adalah perlawanan terakhir terhadap digitalisasi. Ini adalah bukti bahwa tangan manusia masih bisa menciptakan keajaiban.
3. Musik Joe Hisaishi yang Berbeda
Joe Hisaishi, yang telah bekerja dengan Miyazaki sejak Nausicaä (1984), kali ini menciptakan musik yang lebih minimalis, lebih sunyi, dan lebih menyayat. Tidak ada lagu tema yang ceria seperti Ponyo. Yang ada adalah piano sendu, biola yang merintih, dan hening yang berbicara. Adegan di mana Himi meninggalkan Mahito tidak memiliki musik latar—hanya suara api dan tangis. Itu pilihan yang berani dan brilian.
4. Suara Robert Pattinson sebagai Bangau
Ketika Pattinson diwawancarai, ia mengaku merekam suara bangau di lemari gelap selama berjam-jam, berteriak-teriak hingga suaranya serak, lalu menangis. Hasilnya? Suara bangau yang tidak seperti manusia, tidak seperti burung, tapi seperti makhluk dari alam lain. Ini adalah salah satu penampilan sulih suara teraneh dan terbaik dalam sejarah anime.
5. Akhir yang Tidak Memberi Kepastian
Mahito akhirnya memilih kembali ke dunia nyata. Natsuko selamat. Bangau… pergi entah ke mana. Menara itu runtuh. Dan Mahito kembali ke sekolah, bergaul dengan teman-teman, dan perlahan-lahan mulai tersenyum lagi. Tidak ada adegan heroik. Tidak ada kemenangan besar. Hanya kehidupan biasa yang terus berjalan. Dan entah mengapa, itu terasa sangat mengharukan.
Refleksi untuk Kita yang Takut Kehilangan
Saudara, The Boy and the Heron adalah film tentang menerima bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup. Ibu Mahito tidak akan kembali. Tidak ada sihir yang bisa menghidupkannya. Tapi ia meninggalkan sesuatu: keberanian, kehangatan, dan kenangan yang terus hidup dalam diri Mahito.
Kita semua, cepat atau lambat, akan kehilangan orang yang kita cintai. Mungkin orang tua, mungkin sahabat, mungkin seseorang yang begitu berarti hingga kita tidak bisa membayangkan hidup tanpanya. Film ini tidak mengajarkan cara melupakan. Ia mengajarkan cara membawa mereka bersama kita—tanpa terjebak di masa lalu.
Miyazaki, di usianya yang ke-82, mungkin tidak akan membuat film lain lagi. The Boy and the Heron bisa jadi adalah perpisahannya. Dan melalui film ini, ia berbisik pada kita: “Terima kasih telah tumbuh bersama film-filmku. Sekarang, pergilah dan hiduplah. Karena hidup adalah petualangan terbesar yang pernah ada.”
Sebuah Film yang Akan Terus Berbisik di Telinga Anda
The Boy and the Heron bukan film untuk sekali tonton lalu dipahami. Ia akan terus mengganggu pikiran Anda, muncul dalam mimpi, dan membuat Anda kembali ke bioskop untuk menonton ulang. Setiap kali, Anda akan menemukan detail baru. Setiap kali, Anda akan menangis di tempat yang berbeda. Setiap kali, Anda akan bertanya, “Apa maksudnya?”—dan tidak masalah jika Anda tidak menemukan jawabannya.
Karena kadang, yang paling indah dari sebuah perjalanan bukanlah tujuan, melainkan fakta bahwa kita berani melangkah masuk ke menara—meskipun kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya.
Selamat menonton, dan bawalah tisu. Bukan hanya untuk air mata, tapi juga untuk rasa syukur bahwa kita hidup di zaman yang sama dengan Hayao Miyazaki.